Bupati Nganjuk Buka dan Hadiri Prosesi Bersih Desa Sonoageng, Kecamatan Prambon


 2019-06-20 |  Desa Sonoageng

Bupati Nganjuk H. Novi Rahman Hidhayat, S.Sos. M.M., mengajak masyarakat melestarikan budaya nyadran, atau bersih desa. Hal itu ia sampaikan saat menghadiri prosesi bersih desa Sonoageng, Kecamatan Prambon, Kamis 20/06/2019.

Dalam sambutannya Mas Novi menyampaikan, bahwa nyadran adalah budaya asli nganjuk. Sehingga, perlu untuk melestarikannya. Selain itu ke depan Pemkab Nganjuk juga akan menjadikan prosesi bersih desa tersebut sebagai potensi budaya Kota Angin.

“Kami akan buat festival nyadran di seluruh Nganjuk. Sehingga, akan menjadi magnet wisatawan luar daerah untuk mengunjungi Nganjuk. Potensi tersebut akan sangat berdampak positif bagi Nganjuk, “ ujar Bupati Nganjuk.

Mas Novi berharap, selain akan memberikan dampak positif bagi daerah, pelestarian budaya juga sebagai pengingat. Terutama, kepada generasi muda atas upaya pendahulunya membuka daerah baru. Apalagi memasuki era industri 4.0 ini, generasi milenial harus tetap tahu apa itu nyadran sebagai budayanya.

Untuk diketahui, pada prosesi nyadran tersebut, Mas Novi mengikuti rangkaian prosesi dari awal hingga usai.Prosesi diawali dengan kirab pusaka, tumpeng serta gunungan hasil bumi diarak sejauh 500 meter dari kantor desa menuju makam Eyang Said, tokoh yang mengawali membabat tanah desa setempat.

Ikut hadir pula pada kirab tersebut Kepala Disparporabud Nganjuk Supiyanto, Camat Prambon Sudipo, Kades Sonoagung Suharto serta masyarakat Sonoageng.

Setiba di makam Eyang Said, prosesi dilanjutkan penancapan pusaka di sebelah makam dan dilanjutkan prosesi menabur bunga. Disisi selatan makam, belasan tumpeng dan hasil bumi tesebut di perebutkan oleh ratusan masyarakat. Mereka percaya, jika mendapat bagian dari tumpeng maupun hasil bumi tersebut, maka akan mendapatkan berkah dari Tuhan.

Nyadran di desa Sonoageng sendiri berlangsung selama kurang lebih sepekan. Berbagai hiburan tersaji paa acara tahunan tersebut. Mulai dangdut, jaranan hingga pasar rakyat. Namun yang wajib adalah wayang kulit, wayang timplong, dan kentrung. Selebihnya adalah meramaikan, “pungkas Kades Sonoageng Suharto